Arsip Artikel Perpustakaan dan Buku Terbitan Indonesia

Pernah melihat naskah kuno? Kalau belum, cobalah sesekali berkunjung ke Lantai VB Gedung Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) yang terletak di Jl Salemba Raya. Di sana terdapat sekitar 10 ribu naskah yang dikenal dengan Naskah Nusantara (oriental manuscript).

Menurut Kepala Bagian Naskah PNRI Nindya Noegraha, tidak seperti anggapan beberapa kalangan, ternyata naskah kuno yang tersimpan di PNRI lebih lengkap ketimbang yang tersimpan di luar negeri, Leiden misalnya. Sebuah naskah, kata Nindya, sering memiliki versi tersendiri. ”Nah, yang tersimpan di luar negeri barangkali naskah versi lain.”

Koleksi Manuskrip Nusantara yang merupakan naskah yang ditulis tangan tersebut dikumpulkan sejak lebih dari 200 tahun, yakni sejak berdirinya Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen pada tahun 1778. Sebagian besar merupakan hasil kolektor seperti Pigeaud, Brandes, Cohen Stuart, Redel, Kilian, Von de Wall, Van der Tuuk dan Artati Soedirdjo.

Naskah-naskan kuno itu juga diperoleh dari lembaga-lembaga seperti Bataviaasch Genootschap van Kusten en Watenschappen, Koninklijk Bataviaasch Genootschap van kusten en Wetenschappen, Lembaga Kebudayaan Indonesia, Museum Pusat, Museum Nasional, dan PNRI sendiri. Bahkan kabarnya Presiden RI Abdurrahman Wahid pernah menyumbang puluhan kitabnya untuk melengkapi koleksi kuno PNRI.

”Sangat sulit mengumpulkan naskah kuno,” kata Nindya. Dia yakin masih banyak naskah yang disimpan oleh masyarakat. ”Mereka menganggap naskah tersebut sebagai jimat yang memiliki kekuatan mistik tertentu,” ungkapnya. Karena itu, maka sangat sulit bagi PNRI jika menghendaki naskah tersebut disimpan di perpustakaan. ”Bahkan jika dibeli sekalipun mereka enggan melepas naskah yang dimilikinya.” Pemilik naskah juga ketakutan jika petugas PNRI ingin sekadar melihat dan membacanya. Anehnya lagi, ada yang menyaratkan harus menyajikan barang-barang tertentu sebagai sesajen. ”Tidak rasional. Padahal, dalam naskah itu barangkali termuat sejarah yang selama ini masih sumir, seperti di mana letak yang sebenarnya Kerajaan Sriwijaya, dan lain-lain.”

Naskah-naskah kuno yang kini berada di PNRI di antaranya Hijrah Nabi SAM (Naskah Bugis; Babad Mataram (Naskah Jawa); Surat-Surat Raja Gianyar, Raja Bangli, Raja Klungkung (Naskah Bali); Sekawa Darma (Naskah Bali), Pustaha (Naskah Batak); Kumpulan Naskah Rencong (Sumatera Selatan); Bhomakawya (Naskah Bali); Sureq Baweng/Surat Nuri (Naskah Bugis), dan lain-lain. Tidak semua naskah tersebut ditulis di atas kertas. Naskah tadi ada yang ditulis di atas bambu, daun lontar, daun nipah, dan sebagainya.

Selain kesulitan untuk menambah koleksi, memelihara naskah kuno juga tidak gampang. Naskah-naskah tersebut harus diberikan perlakuan khusus sehingga mampu bertahan lebih lama. ”Pada dasarnya naskah kuno itu pasti lambat laun akan hancur. Perawatan ditujukan untuk memperpanjang usia naskah. Jaman dulu biasanya hanya ditaruh kapur barus di samping naskah,” papar alumnus UI itu.

Setahun sekali, ungkap Nindya, naskah tersebut harus difumigasi (disemprot dengan gas) di laboratorium. Tujuannya untuk membersihkan naskah dari kutu-kutu buku dan serangga yang dapat merusak. Selain itu, kelembaban ruangan juga harus dijaga. Ukurannya sekitar 50 persen. Ruangan koleksi selama 24 jam harus tetap dialiri AC sehingga suhunya tetap berada dalam kedinginan 16 derajat Celcius [standar Jakarta]. Agar perawatan itu maksimal dibantu juga dengan pemberian silicagel, dehumidifier, serta dipantau oleh thermohygrograf.

Manuskrip yang ditulis dengan tinta, kata Nindya, mengandung tingkat keasaman yang tinggi. ”Jika dibiarkan, keasaman ini akan menghancurkan kertas naskah,” paparnya. Untuk menghilangkan sifat asam tersebut, naskah dicelupkan dalam larutan basa, setelah sebelumnya diteliti apakah jika dicelupkan dalam larutan tinta itu luntur atau tidak. Sebagian manuskrip ada yang dilindungi dengan kertas silikon atau kertas bebas asam. Penetralan sifat asam juga diperlukan untuk membunuh serangga, karena serangga tidak semuanya mati meski sudah difumigasi.

Penyimpanan naskah kuno juga harus sesuai dengan standar aturan perawatan koleksi. Naskah yang berbentuk buku banyak yang disimpan dalam kotak kertas khusus yang dibeli dari Jepang. Tersedia juga lemari besi sebagai tempat untuk penyimpanan naskah lontar dan bambu.

Untuk mencegah agar koleksi tidak punah, PNRI melakukan beberapa upaya dokumentasi seperti pembuatan mikrofilm. ”Baru sekitar 60 persen saja naskah yang telah dialihkan dalam mikrofilm,” tambahnya. Sayangnya, lanjutnya, lewat mikrofilm aspek warna tidak bisa dimunculkan dengan sempurna karena mikrofilm hanya mampu menyajikan dalam bentuk hitam-putih saja. ”Padalah kadang warna juga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu penunjuk tahun naskah.”

Pengunjung boleh memiliki mikrofilm naskah yang dikehendakinya. Untuk naskah sepanjang satu rol, anda hanya perlu merogoh kantong sebesar Rp 800 ribu. ”Harganya memang cukup mahal, apalagi bagi mahasiswa Indonesia,” kata Nindya.

Selain itu, PNRI juga melakukan penyalinan naskah. ”Dalam satu tahun paling satu naskah yang disalin,” ungkap Nindya. Setelah disalin, banyak naskah yang ditransliterasi, yakni penyalinan dengan penggantian huruf dari abjad satu ke abjad yang lain sehingga mahasiswa dan masyarakat awam dapat memahami naskah kuno. ”Tidak semua orang yang berminat membaca naskah kuno menguasai bahasa yang digunakan penulis naskah. Naskah yang telah ditransliterasi bisa dicetak oleh pengunjung. Harganya Rp 2.000 per lembar.

Ia berkata, sangat disayangkan kenyataan menunjukkan masih sedikit masyarakat yang mengetahui dan memanfaatkan koleksi Manuskrip Nusantara. Jikapun ada yang berkunjung, paling mahasiswa Fakultas Sastra tingkat awal yang tengah diberi tugas oleh dosennya. Atau paling banter mahasiswa doktoral dan peneliti. Malahan, kata Nindya, yang banyak membolak-balik naskah kuno justru mahasiswa dari luar negeri yang tengah mempelajari budaya Indonesia.

Padahal isi yang terkandung dalam naskah sangat beragam. ”Dari sini kita bisa membaca lintasan sejarah,” ungkap Nindya. Naskah juga bisa memuat dongeng, hikayat, cerita rakyat, babad, silsilah sampai sejarah. Terdapat juga naskan kuno yang berisi perjanjian, etiket, upacara, hukum adat, bahkan undang-undang sebuah kerajaan. Bukan cuma itu saja, ada pula manuskirip yang isinya seperti daftar kata, kamus, tata bahasa atau gramatika. Bahkan tak jarang ada yang menjelaskan tentang astrologi, keagamaan, cara-cara pengobatan, ilmu bangunan dan lain-lain. ”Barangkali dengan membaca naskah kuno akan ditemukan cara mengobati penyakit AIDS,” seloroh pria berkacamata minus itu. Siapa tahu?

<http://www.asmakmalaikat.com/go/buku/23012000_1.htm&gt;

———————
The WordVEOMyKucingC#TechnoLastjune

Advertisements